Pernah di suatu siang, ketika pelajaran Geografi, gue mengobrol dengan
dua orang teman. Jangan tanya mengapa kami bisa mengobrol ketika pelajaran
berlangsung. Hal itu mudah saja dilakukan sebab guru Geografi gue orangnya
cuek. Muridnya bengong… dibiarin, muridnya ngoceh… dibiarin, kayaknya kalau
muridnya main togel di dalam kelas juga bakal dibiarin.
Sebenarnya waktu itu, beliau minta supaya kami membaca materi
pengindraan jauh di buku paket, nanti jika ada yang sulit dipahami boleh
ditanyakan. Berhubung teman di belakang dan di seberang gue belum punya buku,
mereka gabung di meja gue.
Sebut saja teman yang duduk di belakang gue bernama Simon. Dia cowok
dan enak diajak ngomong meski kadang ngeselin abis. Perawakannya tinggi kecil.
Kalian tau korek api yang digesek itu, kan? Nah, wujudnya menyerupai itu.
Bedanya, pentol korek kan atasnya pelontos, kalau dia berambut.
Sedangkan teman yang duduk di seberang gue, sebut saja namanya Nana.
Orangnya cantik dan pantas jadi member grup korea semacam Red Velvet atau
Twice. Tidak seperti gue yang lebih cocok jadi member grup marawisan tingkat
RT. Itupun bakal didepak karena kelakuan tidak memenuhi syarat.
Lantaran bosan dengan pelajaran Geografi, kami bertiga mengobrol. Tapi
tumben obrolan kami kali ini agak bermutu. Biasanya sih nggak layak didengar
atau lebih baik nggak usah didengar karena bikin telinga darahan.
“Ki, lo sadar nggak hidup ini berasa cepat banget?” tanya Simon ketika
gue lagi berusaha fokus untuk baca materi Geografi.
Fokus gue buyar gara-gara pertanyaan itu. Hidup ini berasa cepat? Ya,
gue juga merasa gitu.
“Iya, ya? Tau-tau udah kelas 12 aja, perasaan baru kemarin daftar
SMA,” jawab gue.
“Kalau udah kelas 12 gini, bingung ya, besok mau ke mana, mau
ngapain.”
Gue cekikikan. “Bener banget. Gue sampai sekarang masih bingung mau
lanjut di mana dan mau jadi apa.”
“Sama, Ki. Asal lo tau, tiap mandi atau eek di kamar mandi, gue sering
ngelamun. Mikir besok hidup gue gimana.”
Sampai sini, tawa gue lepas. Lucu aja. Di saat cowok lain pada nyabun
di kamar mandi, Simon justru melamun memikirkan masa depan.
Melamun di kamar mandi itu memang enak sih. Gue juga sering melamun di
kamar mandi, terutama ketika buang air. Yah, jujur 40% inspirasi yang gue dapat
untuk dituangkan ke dalam tulisan adalah hasil melamun di kamar mandi.
“Ngobrolin apa, sih, lo berdua?” tanya Nana yang daritadi bengong
lihatin buku Geografi tanpa membacanya.
“Ini loh, lagi ngobrolin hidup kenapa cepat banget rasanya,” sahut gue
sambil melihat Simon.
Simon mengangguk lalu berkata. “Jadi kelas 12 nggak enak. Kalau boleh
minta, gue pengin balik ke kelas 11 lagi.”
“Gue lebih pengin balik jadi kelas 10,” kata gue.
“Ih enakan kelas 11 kali,” ujar Nana. “Udah punya banyak teman,
pelajarannya santai, dan yang terpenting jalan-jalan ke Bali. Hehe.”
“Nah benar tuh!” Simon setuju.
Pulang dari sekolah, gue diam di kamar. Teringat dengan percakapn kami
di atas. Tentang hidup yang berlangsung cepat, mau jadi apa besok, dan tentang
pengin balik ke masa lalu.
Setelah gue pikir-pikir, ternyata selama ini gue kurang menikmati
hidup. Sejak kecil yang gue inginkan adalah cepat-cepat lulus sekolah, terus
kuliah, terus kerja. Ternyata begitu hampir lulus sekolah, gue justru bingung
dan malah pengin balik ke masa lalu.
Semenjak terlibat dalam percakapan di atas, kini gue benar-benar
berusaha untuk menikmati hidup dan nggak ngeluh ketika menghadapi rintangan.
Daripada ngeluh nggak ada habisnya, mending dijalani sambil dinikmati.
Gue suka heran sama teman-teman gue yang bilang bosan sekolah, bosan
diberi tugas, bosan ulangan, dan pengin cepat-cepat kuliah, parahnya ada yang
pengin cepat-cepat nikah.
Emang mereka pikir dengan menikah, hidup mereka akan dijauhkan dari
yang namanya tugas? Justru menurut gue tugas setelah menikah itu berat. Tugas
mempertahankan keutuhan rumah tangga, misalnya. Itu nggak semudah
mempertahankan gelar keperawanan yang melekat di diri Mimi Peri.
Yah mungkin mereka memang berpikir begitu. Gue maklum sebab tiap orang
punya pemikiran, prinsip dan tujuan yang berbeda. Tapi ya itu, terkadang gue
suka heran.
Kalau gue, sih, untuk saat ini belum punya pikiran tentang menikah.
Pikiran gue masih terpusat pada oppa.
Ehehe. Selamat hari Senin ya semuanya, ini dapat cinta dari Taeil.


Bagus nih topik bahasannya. Aku juga sedang berusaha menikmati hidup dan berusaha banget biar nggak ngeluh terus. Kalau dipikir-pikir, ngeluh itu bikin masalah yang harusnya enteng jadi makin berat, iya gak sih?
ReplyDeleteBener banget. Harusnya masalah itu dihadapi, bukan dingeluhin. Tapi apalah, sifat dasar manusia memang gitu ehehe
Delete