Warning! Sejatinya tulisan ini bukanlah sebuah review melainkan sebuah
curhatan berkedok review.
Ika Natassa adalah salah satu penulis Indonesia yang karyanya gue
sukai. Hampir semua novel karangannya sudah gue baca kecuali satu yaitu yang
berjudul ‘Underground’. Sampai saat ini novel ‘The Architecture of Love’ masih
menjadi karya Ika Natassa nomor satu di hati gue. Setelah itu ‘Critical Eleven’
dan kemudian ‘Divortiare’-‘Twivortiare’.
Dan … ketika tau bahwa novel Twivortiare akan difilmkan, gue senang
banget. Gue langsung berdoa, Ya Allah semoga pas filmnya tayang, hamba ada di
Semarang biar bisa nonton. Soalnya waktu film adaptasi novel Ika Natassa
sebelumnya, yaitu Antologi Rasa tayang, gue lagi dalam masa libur kuliah dan di
kampung gue nggak ada bioskop. Sedih men. Ayo dong pemkab, bangun bioskop, biar
perfilman Indonesia bisa makin maju!
Saat casts film Twivortiare diumumkan, jujur gue rada gimana gitu
waktu tau bahwa tokoh Beno diperankan oleh Reza Rahadian yang sudah
pernah memerankan salah satu tokoh dalam film Ika Natassa sebelumnya, yaitu Ale
di Critical Eleven. Gue takut kalau pas nonton Twivortiare, eh, malah teringat
sosok Ale. Gue nggak mau ya di tengah-tengah pemutaran film Twivortiare, gue
malah meraung-raung …
‘Ale, ngapain kamu sama Alex?
Istrimu itu Anya, Le! Bukan Alex! PULANG, LE, PULANG! KAMU KELIRU ISTRI!’
Namun, mengetahui kemampuan dan kualitas Reza Rahadian sebagai aktor
yang maha-bunglon, ketakutan gue itu perlahan sirna. Gue yakin Reza bisa
memerankan sosok Beno dengan baik. Yakin banget.
Nah, kalau yang bikin gue kaget tapi senang adalah dipilihnya Denny
Sumargo untuk memerankan tokoh Denny. Kok kaget? Karena saat membaca novel
Twivortiare, tokoh Denny di bayangan gue itu ya Denny Sumargo. Gue kaget, kok
bisa ya pas banget gitu. Gue jadi bisa merasakan, oh jadi begini rasanya jika
apa yang selama ini cuma kita imajinasikan di kepala menjadi kenyataan.
Ihirrrr.
Film Twivortiare resmi tayang tanggal 29 Agustus 2019 di seluruh
bioskop di Indonesia. Tetapi lantaran jadwal kuliah gue yang semester ini padat
banget, gue baru bisa nonton seminggu setelah film ini tayang perdana. Itu pun
gue nyuri-nyuri waktu di sela jadwal kuliah.
Jadi,
hari Kamis itu gue ada kuliah dari pukul 12.30 sampai 14.30 Waktu Indonesia
Ngantuk. Iya, jam-jam segitu, kan, jamnya ngantuk. Untuk meminimalisir rasa
kantuk gue yang kadang suka tidak terkendali, gue main hape. Heheh. Gue iseng
buka jadwal tayang film di bioskop yang ada di Semarang. Padahal gue nggak ada
niatan untuk nonton tuh. Eh begitu gue lihat film Twivortiare akan tayang pukul
14.45, hasrat gue untuk nonton menggebu-gebu. Tapi seketika batin gue bergejolak …
waduh, kalau gue selesai kuliah pukul 14.30 bakalan mepet banget dong, lha wong
perjalanan dari kampus ke bioskop aja makan waktu lima belas menitan, duh
kira-kira bisa nggak ya.
Semesta
lagi berpihak pada gue rupanya. Yang biasanya durasi waktu kuliah matkul
tersebut selalu sesuai jadwal, hari itu kuliah selesai lima belas menit lebih
awal. Tanpa buang-buang waktu, gue segera keluar kelas duluan dan meluncur ke
bioskop.
Demi
Twivortiare. Demi lihat percekcokan Alex dan Beno. Demi lihat suami istri
berantem!
Sesampainya
di bioskop, yakni pukul 14.30-an, gue langsung lari masuk untuk beli tiket.
Ketika gue bertransaksi dengan mbak-mbaknya, studio telah dibuka. Jadi,
selesai membayar dan mendapat tiket, gue langsung masuk deh.
Warning
(lagi)! Paragraf setelah ini penuh SPOILER!!!
Gue
rasa untuk penonton yang sama sekali belum pernah baca novel Twivortiare, film ini akan terasa sedikit membingungkan karena banyak adegan flashback
dan nggak seluruh adegannya runtut.
Untung
gue udah khatam baca novelnya.
Terus
terang film ini agak melenceng dari apa yang gue bayangkan. Gue mengira film
ini akan berfokus pada perjuangan Alex untuk move on dari Beno setelah keduanya
memutuskan untuk cerai. Sehingga gue pikir konflik antara Alex, Beno,
dan Denny itu bakal terasa banget. Nyatanya nggak. Konflik di film ini ya berkisar
antara Alex dengan Beno, serta ego mereka masing-masing. Cerita di film ini
berfokus pada kehidupan Alex dan Beno setelah menikah untuk yang kedua kalinya
dan bagaimana usaha mereka dalam mempertahankan rumah tangga supaya nggak gagal
lagi kayak dulu.
Gue sangat
menyayangkan keberadaan tokoh Denny di film ini yang … ah ya gitu deh. Di sini
sosok dia seperti sayur bayam tanpa garam. Hambar. Karakternya yang di dalam
novel sangat manis, justru di film malah tampak datar. Jujur, gue nggak
merasakan sensasi apapun melihat keberadaan Denny di sini. Padahal pas gue baca
novelnya, tokoh Denny ini bikin gue baper dan nestapa sekaligus. Andai aja tokoh
Denny ini dibikin benar-benar ‘hidup’ … wah, parah sih, kacau banget pasti film
ini!
Tokoh
Adrian malah lebih nggak jelas banget. Seingat gue, di novel, Adrian ini adalah
sosok yang nyebelin dan pantang menyerah buat ngejar-ngejar Alex. Tapi kenapa
di film ini dia akhirnya pasrah dan baik banget? Hmmm … untung yang memerankan
si Arifin Putra, walaupun rada kesal karakter Adrian dibikin lemah begitu, gue
tetap bisa senyum-senyum melihat kerupawanan dia. Ah tepatnya, sih,
senyum-senyum sambil berdoa minta jodoh yang bentukannya sebelas dua belas sama
Arifin Putra.
Amin.
Ending
film ini juga melenceng dari bayangan gue. Di bayangan gue, film ini akan
diakhiri dengan adegan Alex ngasih tau Beno bahwa dirinya hamil, tapi ternyata
endingnya nggak gitu. Melihat kenyataan endingnya yang seperti itu, gue rasa
film ini akan dibikin sequel-nya deh. Yah semoga aja.
Tapi sumpah
gue nggak kecewa, sih, sama film ini. Gue suka. Setiap adegan direalisasikan
dengan baik–meski runtutannya agak bikin bingung–, dialognya rapi, humornya
dapet, dan akting pemainnya bagus-bagus. Walaupun di menit-menit awal saat
melihat Reza Rahadian, gue terbayang sosok Ale, tapi seterusnya gue nggak lihat
sosok Ale lagi melainkan Beno.
Akting
Raihaanun juga keren gila. Sosok Alexandra Rhea Wicaksono diperankannya dengan
suangat baik. Persis seperti apa yang selama ini gue bayangkan tentang sosok
Alex. Trus … hmm ini di luar konteks, sih, tapi rasanya gue nggak tahan buat
nggak memuji kecantikan Raihaanun. Duh sumpah deh, perempuan ini luar biasa
menarik. Nggak ada bosen-bosennya gue lihatnya. Dan sepertinya gue perlu
bertapa di Gunung Everest selama tujuh purnama dulu buat bisa sepadan sama
Raihaanun.
Susah.
Keserasian antara Reza Rahadian dengan Raihaanun di film ini jangan ditanya deh. Top abis.
Gemesin bikin baper. Lihat mereka di sini serasa lihat suami istri beneran.
Akhir
kata, pelajaran yang bisa gue ambil dari film Twivortiare, pernikahan itu bukan
main-main dan dalam menjalaninya nggak semudah yang orang pikir. Apa cinta aja
cukup buat modal mengarungi bahtera rumah tangga? Belum. Kalau modal cinta dan
materi? Belum cukup juga. Sebab selain hal tersebut, kehidupan pernikahan juga
memerlukan komitmen yang kuat, sikap saling pengertian, saling menurunkan ego
masing-masing, dan hal-hal krusial lainnya yang belum sampai terpikirkan oleh
gue–seonggok perempuan 19 tahun yang di otaknya baru sebatas mikirin besok mau
makan ayam geprek atau tahu gimbal ya.



Aku juga salah satu fans berat novelnya Ika Natassa nih. Tapi entah kenapa sejak nonton Antologi Rasa jadi agak males nonton film adaptasi dia yang lain huhu padahal Critical Eleven itu buagusss banget filmnya. Apa karena AR dan CE memakai produksi house yang berbeda ya? *bisa jadi ini*
ReplyDeleteTwivortiare ini juga belum nonton, takut kecewa lagi huahahaha dan aku pun yang bingung-bingung saat Ika mengumumkan Reza bakal memerankan Beno, sama bingungnya ketika Refal memerankan Ruly (padahal harusnya dia Harris!). Tapi thank you yaa buat review-nya, setidaknya udah siap hati kalo beneran nonton ekspektasiku nggak tinggi-tinggi amat :P
Beda production house emang bisa jadi faktor sih ... mungkin.
DeleteIya, nonton Twivortiare jangan terlalu tinggi ekspektasi, nikmati aja tiap adegannya ahaha