Saturday, September 7, 2019




Warning! Sejatinya tulisan ini bukanlah sebuah review melainkan sebuah curhatan berkedok review.

Ika Natassa adalah salah satu penulis Indonesia yang karyanya gue sukai. Hampir semua novel karangannya sudah gue baca kecuali satu yaitu yang berjudul ‘Underground’. Sampai saat ini novel ‘The Architecture of Love’ masih menjadi karya Ika Natassa nomor satu di hati gue. Setelah itu ‘Critical Eleven’ dan kemudian ‘Divortiare’-‘Twivortiare’.

Dan … ketika tau bahwa novel Twivortiare akan difilmkan, gue senang banget. Gue langsung berdoa, Ya Allah semoga pas filmnya tayang, hamba ada di Semarang biar bisa nonton. Soalnya waktu film adaptasi novel Ika Natassa sebelumnya, yaitu Antologi Rasa tayang, gue lagi dalam masa libur kuliah dan di kampung gue nggak ada bioskop. Sedih men. Ayo dong pemkab, bangun bioskop, biar perfilman Indonesia bisa makin maju!

Saat casts film Twivortiare diumumkan, jujur gue rada gimana gitu waktu tau bahwa tokoh Beno diperankan oleh Reza Rahadian yang sudah pernah memerankan salah satu tokoh dalam film Ika Natassa sebelumnya, yaitu Ale di Critical Eleven. Gue takut kalau pas nonton Twivortiare, eh, malah teringat sosok Ale. Gue nggak mau ya di tengah-tengah pemutaran film Twivortiare, gue malah meraung-raung …

‘Ale, ngapain kamu sama Alex? Istrimu itu Anya, Le! Bukan Alex! PULANG, LE, PULANG! KAMU KELIRU ISTRI!’

Namun, mengetahui kemampuan dan kualitas Reza Rahadian sebagai aktor yang maha-bunglon, ketakutan gue itu perlahan sirna. Gue yakin Reza bisa memerankan sosok Beno dengan baik. Yakin banget.

Nah, kalau yang bikin gue kaget tapi senang adalah dipilihnya Denny Sumargo untuk memerankan tokoh Denny. Kok kaget? Karena saat membaca novel Twivortiare, tokoh Denny di bayangan gue itu ya Denny Sumargo. Gue kaget, kok bisa ya pas banget gitu. Gue jadi bisa merasakan, oh jadi begini rasanya jika apa yang selama ini cuma kita imajinasikan di kepala menjadi kenyataan. Ihirrrr.

Film Twivortiare resmi tayang tanggal 29 Agustus 2019 di seluruh bioskop di Indonesia. Tetapi lantaran jadwal kuliah gue yang semester ini padat banget, gue baru bisa nonton seminggu setelah film ini tayang perdana. Itu pun gue nyuri-nyuri waktu di sela jadwal kuliah. 

Jadi, hari Kamis itu gue ada kuliah dari pukul 12.30 sampai 14.30 Waktu Indonesia Ngantuk. Iya, jam-jam segitu, kan, jamnya ngantuk. Untuk meminimalisir rasa kantuk gue yang kadang suka tidak terkendali, gue main hape. Heheh. Gue iseng buka jadwal tayang film di bioskop yang ada di Semarang. Padahal gue nggak ada niatan untuk nonton tuh. Eh begitu gue lihat film Twivortiare akan tayang pukul 14.45, hasrat gue untuk nonton menggebu-gebu. Tapi seketika batin gue bergejolak … waduh, kalau gue selesai kuliah pukul 14.30 bakalan mepet banget dong, lha wong perjalanan dari kampus ke bioskop aja makan waktu lima belas menitan, duh kira-kira bisa nggak ya.

Semesta lagi berpihak pada gue rupanya. Yang biasanya durasi waktu kuliah matkul tersebut selalu sesuai jadwal, hari itu kuliah selesai lima belas menit lebih awal. Tanpa buang-buang waktu, gue segera keluar kelas duluan dan meluncur ke bioskop.

Demi Twivortiare. Demi lihat percekcokan Alex dan Beno. Demi lihat suami istri berantem!

Sesampainya di bioskop, yakni pukul 14.30-an, gue langsung lari masuk untuk beli tiket. Ketika gue bertransaksi dengan mbak-mbaknya, studio telah dibuka. Jadi, selesai membayar dan mendapat tiket, gue langsung masuk deh.


Warning (lagi)! Paragraf setelah ini penuh SPOILER!!!

Gue rasa untuk penonton yang sama sekali belum pernah baca novel Twivortiare, film ini akan terasa sedikit membingungkan karena banyak adegan flashback dan nggak seluruh adegannya runtut.

Untung gue udah khatam baca novelnya. 

Terus terang film ini agak melenceng dari apa yang gue bayangkan. Gue mengira film ini akan berfokus pada perjuangan Alex untuk move on dari Beno setelah keduanya memutuskan untuk cerai. Sehingga gue pikir konflik antara Alex, Beno, dan Denny itu bakal terasa banget. Nyatanya nggak. Konflik di film ini ya berkisar antara Alex dengan Beno, serta ego mereka masing-masing. Cerita di film ini berfokus pada kehidupan Alex dan Beno setelah menikah untuk yang kedua kalinya dan bagaimana usaha mereka dalam mempertahankan rumah tangga supaya nggak gagal lagi kayak dulu.

Gue sangat menyayangkan keberadaan tokoh Denny di film ini yang … ah ya gitu deh. Di sini sosok dia seperti sayur bayam tanpa garam. Hambar. Karakternya yang di dalam novel sangat manis, justru di film malah tampak datar. Jujur, gue nggak merasakan sensasi apapun melihat keberadaan Denny di sini. Padahal pas gue baca novelnya, tokoh Denny ini bikin gue baper dan nestapa sekaligus. Andai aja tokoh Denny ini dibikin benar-benar ‘hidup’ … wah, parah sih, kacau banget pasti film ini!

Tokoh Adrian malah lebih nggak jelas banget. Seingat gue, di novel, Adrian ini adalah sosok yang nyebelin dan pantang menyerah buat ngejar-ngejar Alex. Tapi kenapa di film ini dia akhirnya pasrah dan baik banget? Hmmm … untung yang memerankan si Arifin Putra, walaupun rada kesal karakter Adrian dibikin lemah begitu, gue tetap bisa senyum-senyum melihat kerupawanan dia. Ah tepatnya, sih, senyum-senyum sambil berdoa minta jodoh yang bentukannya sebelas dua belas sama Arifin Putra.

Amin.

Ending film ini juga melenceng dari bayangan gue. Di bayangan gue, film ini akan diakhiri dengan adegan Alex ngasih tau Beno bahwa dirinya hamil, tapi ternyata endingnya nggak gitu. Melihat kenyataan endingnya yang seperti itu, gue rasa film ini akan dibikin sequel-nya deh. Yah semoga aja.

Tapi sumpah gue nggak kecewa, sih, sama film ini. Gue suka. Setiap adegan direalisasikan dengan baik–meski runtutannya agak bikin bingung–, dialognya rapi, humornya dapet, dan akting pemainnya bagus-bagus. Walaupun di menit-menit awal saat melihat Reza Rahadian, gue terbayang sosok Ale, tapi seterusnya gue nggak lihat sosok Ale lagi melainkan Beno.

Akting Raihaanun juga keren gila. Sosok Alexandra Rhea Wicaksono diperankannya dengan suangat baik. Persis seperti apa yang selama ini gue bayangkan tentang sosok Alex. Trus … hmm ini di luar konteks, sih, tapi rasanya gue nggak tahan buat nggak memuji kecantikan Raihaanun. Duh sumpah deh, perempuan ini luar biasa menarik. Nggak ada bosen-bosennya gue lihatnya. Dan sepertinya gue perlu bertapa di Gunung Everest selama tujuh purnama dulu buat bisa sepadan sama Raihaanun.

Susah.

Keserasian antara Reza Rahadian dengan Raihaanun di film ini jangan ditanya deh. Top abis. Gemesin bikin baper. Lihat mereka di sini serasa lihat suami istri beneran. 

Akhir kata, pelajaran yang bisa gue ambil dari film Twivortiare, pernikahan itu bukan main-main dan dalam menjalaninya nggak semudah yang orang pikir. Apa cinta aja cukup buat modal mengarungi bahtera rumah tangga? Belum. Kalau modal cinta dan materi? Belum cukup juga. Sebab selain hal tersebut, kehidupan pernikahan juga memerlukan komitmen yang kuat, sikap saling pengertian, saling menurunkan ego masing-masing, dan hal-hal krusial lainnya yang belum sampai terpikirkan oleh gue–seonggok perempuan 19 tahun yang di otaknya baru sebatas mikirin besok mau makan ayam geprek atau tahu gimbal ya.
Categories:

2 comments:

  1. Aku juga salah satu fans berat novelnya Ika Natassa nih. Tapi entah kenapa sejak nonton Antologi Rasa jadi agak males nonton film adaptasi dia yang lain huhu padahal Critical Eleven itu buagusss banget filmnya. Apa karena AR dan CE memakai produksi house yang berbeda ya? *bisa jadi ini*

    Twivortiare ini juga belum nonton, takut kecewa lagi huahahaha dan aku pun yang bingung-bingung saat Ika mengumumkan Reza bakal memerankan Beno, sama bingungnya ketika Refal memerankan Ruly (padahal harusnya dia Harris!). Tapi thank you yaa buat review-nya, setidaknya udah siap hati kalo beneran nonton ekspektasiku nggak tinggi-tinggi amat :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. Beda production house emang bisa jadi faktor sih ... mungkin.

      Iya, nonton Twivortiare jangan terlalu tinggi ekspektasi, nikmati aja tiap adegannya ahaha

      Delete